MENGEMBANGKAN KOMPETENSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Standar

BAB 9
MENGEMBANGKAN KOMPETENSI
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Kadjar Dewantara senantiasa menuturkan bahwa pendi kan serba otak (verstan-delijke opvoeding) saja tidak kup, tetapi masih harus ada pendidikan jiwa dan budi pekerti (geestelijke opvoeding). Pintar saja belum cukup, kita perlu arif, rendah- hati, dan manusiawi. Di negeri ini mungkin sudah banyak orang pintar, paling tidak sebagaimana ditunjukkan oleh para elite politik. Tetapi banyak yang sepakat, mereka dan bahkan kita semua sebagai bangsa, makin kehilangan kearifan, kerendah­an hati, dan sentuhan kemanusiaan sebagaimana dianjurkan Ki Hadjar.

Ketika pemerintah menggulirkan otonomi daerah, ancaman konflik etnis justru merebak di mana-mana. Kerusuhan di Sambas, Maluku, Irian Jaya, Aceh, dan yang terakhir di Sampit serta Pa­langkaraya, seolah menyadarkan betapa kita sebagai bangsa yang sering dicitrakan ramah dan bersahabat ternyata bisa mencip­takan tragedi kemanusiaan yang mengerikan sebagaimana ter­jadi di Rwanda, Bosnia, atau Somalia. Kerukunan antaretnis yang dibanggakan sebagai manifestasi idiom Bhinneka Tunggal Ika, sebagaimana tercantum dalam lambang negara Garuda Pancasila, tiba-tiba sirna dan kehilangan makna.

Mengabaikan humaniora

Mengapa kita sebagai bangsa semakin kehilangan rasa kt­manusiaan dan kearifan dalam berbangsa? Salah satunya adalah karena kita cukup lama mengabaikan atau paling tidak meming­girkan pendidikan humaniora. Marginalisasi humaniora ini mu­lai terasa ketika pemerintahan Orde Baru menggandrungi para­digms konsensus dan pemikiran developmentalisme. Apa saja yang dianggap anti pembangunan dan tidak mengarah pada ketundukan total dan kepatuhan tunggal, akan memperoleh te­kanan hebat. Situasi ini menciptakan fenomena penyeragaman yang sangat alergis dengan keanekaragaman sehingga pemikir­an dan aktivitas yang bersifat eksploratif dan mengedepankan pentingnya pluralitas disingkirkan.

Awan semakin tebal menyelimuti humaniora, tatkala fe­nomena hegemoni negara terhadap masyarakat mulai terasa ma­rak demi terpeliharanya stabilitas nasional. Karena tujuan utama­nya demi terciptanya masyarakat yang terkendali maka arus penyeragaman terus menderas menghanyutkan keanekaragaman. Padahal eksistensi humaniora justru terletak pada kebebasan ber­pikir dan bereksplorasi, serta kegandrungannya dengan plural­isme.

Humaniora merupakan nilai yang bersifat universal karena ia mampu menembus batas-batas agama dan perspektif ideologis lainnya sehingga bisa mengatasi pandangan sempit primordial. Mahatma Gandhi mampu menyatukan India untuk melawan kolonialisme Inggris dengan prinsip perjuangan yang sangat humanistik. My nationalism is humanism, begitu semboyannya yang amat sangat terkenal dan berhasil ditanarnkan pada bang­sanya. Meski kemudian dunia menyaksikan ia menjadi korban kekerasan, bapak humanisme itu tetap lekat dengan perjuangan antikekerasan, dan hingga sekarang spirit ini tetap mewarnai banyak aktivis prodemokrasi.

Sementara tokoh humans lain, Soedjatmoko, menekankan bahwa hidup dan nasib manusia sebagai sebuah bangsa pada

Mengembangkan Kompetensi Komunikasi Antarbudaya    259

dasarnya tergantung pada apa yang dilakukannya sendiri, yaitu pada kernampuannya untuk memilih dan mengolah kemungkin­an yang terdapat dalam dunia ini. Keberhasilan dan kegagalan hidup tidak ada hubungannya dengan kekuatan-kekuatan dari luar. Dengan demikian, kesadaran sejarah adalah perlawanan manusia terhadap determinisme untuk merebut kembali kebe­basan manusia dalam menentukan tujuan dan jalan hidupnya dan menegakkan otonomi dirinya ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan luar.

Kearifan lokal

Kimberly A Maynard, dalam bukunya yang berjudul Heal­ing Communities in Conflict (1999), mengingatkan bahwa sejak pasca-Perang Dingin, karakter konflik di pelbagai belahan dunia mengalami pergeseran dari konflik ideologis ke konflik identitas, yang antara lain juga berlatar belakang etnis dan agama. Gejala ini juga sudah mulai tampak di negara kita, konflik dan kekeras­an terus terjadi secara bergelombang.

Proses dehumanisasi yang terjadi di pelbagai lokasi di Indonesia sebagai akibat benturan antarnilai, penyembuhannya bisa dilakukan dengan humanisme yang digali dari kearifan lokal itu sendiri. Banyak yang sepakat bahwa sesungguhnya tradisi-tradisi lokal dan kebudayaan lokal carat dengan nilai­nilai humanistik, yang jika tidak terkontaminasi dengan nilai­nilai luar masih efektif sebagai solusi konflik. Dalam kebudayaan Jaws, misalnya prinsip harmoni, hingga saat ini diduga menjadi salah satu kekuatan yang bisa meredam konflik yang eksplosif. Inilah sebabnya, mengapa di wilayah subkultur Mataraman ka­dar konflik social relatif rendah, meskipun secara politik dan ekonomi potensial untuk konflik.

Humaniora yang bersumber dari kearifan lokal semacam itu, kiranya juga dimiliki oleh setiap kebudayaan di daerah. Oleh karena itu, pelbagai upaya untuk mengidentifikasi nilai­nilai lokal yang humanistik perlu dilakukan, untuk kemudian

diinternalisasikan melalui pendidikan keluarga maupun pendi­dikan sekolah. Reaktualisasi kearifan lokal semacam itu lambat lawn juga akan menjadi dasar dalam etika pergaulan sosial. Dan oleh karena kearifan lokal itu sarat mengandung humanisme maka akan dapat terjadi cross cutting dalam pergaulan kebuda­yaan antardaerah di lingkup nasional sebab humanisme bersifat universal. Proses ini nantinya akan menimbulkan perimpitan antarnilai dari pelbagai daerah sehingga potensial menjadi iden­titas kebudayaan nasional.

Begitulah, dalam situasi kegalauan dan kegamangan untuk kembali menjadi sebuah bangsa yang bersatu seperti sekarang ini, lalu ke mana kita harus berpaling? Barangkali, walaupun kita telah dihantui perasaan dendam sebagai akibat peristiwa dehumanistik, tetapi kita sebagai bangsa tetap merasa perlu ber­paling pada humaniora. Karena itu, yang perlu diupayakan da­lam pelbagai aktivitas pendidikan masyarakat adalah ‘tetap mem­perhatikan dan mempertahankan humaniora dalam membentuk kearifan berbangsa. Harapan yang ingin diraih adalah agar kita sebagai bangsa dapat memahami dan mencapai kemanusiaan sebaik-baiknya sehingga mengerti siapakah manusia, dan ba­gaimana memperlakukan manusia lain sebagaimana manusia (Dikutip dari S. Bayu Wahyono, KOMPAS, Selasa, 15 Mei 2001).

Tulisan Bayu Wahyono ini mengajak kita untuk menera­wang ke belakang dan bertanya, sejauhmana keberadaan pendi­dikan humaniora dan sejauhmana kita memahami dan melaksa­nakan kearifan lokal. Bile pendidikan humaniora kurang diberi­kan kepada bangsa maka perlahan-lahan suatu bangsa dan ma­syarakat menjadi’kebal rasa’. Dampaknya antara lain bile terjadi konflik antarsuku, bangsa, dan agama maka kita tak dapat me­nyelesaikannya secara tuntas, apalagi jika kita tidak menjadikan kearifan lokal sebagai pendukung resolusi konflik. Dalam pan­dangan saya, Bayu Wahyono mendorong kita untuk mempela­jari komunikasi antarbudaya. Kita perlu meningkatkan lagi (ti­dak hanya) kemauan, (tetapi lebih dari itu) kemampuan, kompe­tensi, kapasitas untuk berkomunikasi antarbudaya, dan berko­

munikasi di bawah bimbingan nilai-nilai dan perilaku kita yang diarahkan oleh kearifan lokal. Jadi, tak beralasan kalau sese­orang tidak mau bergaul antarbudaya, sudah pasti dia akan melecehkan aspek budaya dalam berkomunikasi.

Kita sudah banyak bicara tentang kebudayaan dan komuni­kasi. Kunci utarna untuk meningkatkan kemampuan berkomuni­kasi antarbudaya adalah memahami kebudayaan, terutama ke­budayaan orang lain, sehingga bermanfaat sebagai perbandingan dengan kebudayaan kita. Dalam bab ini, kita akan bicara tentang bagaimana, meningkatkan Cultural Competence dalam rangka ko­munikasi antarbudaya.

I. KOMPETENSI

Sering kali kita mendengar kata. kompetensi. Ketika seorang sekretaris penyelenggara suatu program Pascasarjana menelepon saya untuk mengajar mata kuliah teori-teori Ilmu Komunikasi, kata. dia, “Bapak yang mempunyai kompetensi untuk mengajar mata kuliah itu.” Ketika banyak orang berkumpul di jalan raya. El Tari, Kupang, menyaksikan kecelakaan lalu lintas, seorang ibu berkata, “hanya polisi lalu lintas yang berkompeten untuk memeriksa kecelakaan ini”. Apa kompetensi itu?

Kate competence adalah state of being capable, atau dapat diar­tikan sebagai suatu keadaan yang menunjukkan kapabilitas atau kemampuan seseorang (Webster’s, 1997) sehingga is dapat ber­fungsi dalam cars-care yang mendesak dan penting. John Wieman dan James Bradaac (1989), yang dikutip Gudykunst (1991, h1m. 101), mengemukakan bahwa setiap hari kite menam­pilkan kompetensi dalam bentuk pernyataan yang sederhana misahiya’cukup memadai’ (adequate, sufficient, dan suitable). Yang dimaksudkan dengan, misalnya, kompetensi komunikator ada­lah sebuah kompetensi yang dimiliki oleh seorang komunikator, atau kemampuan tertentu, kemampuan yang cukup dari seorang komunikator untuk menghindari perangkap atau hambatan ko­munikasi. Misalnya, mampu meminimalisasi kesalahpahaman,

kekurangmengertian, dan memahami perbedaan sikap dan per­sepsi orang lain.,

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan kompetensi antar­budaya adalah kompetensi yang dimiliki oleh seseorang (baik secara pribadi, berkelompok, organisasi, atau dalam etnik dan ras) untuk meningkatkan kapasitas, ketrampilan, pengetahuan yang berkaitan dengan kebutuhan utama dari orang-orang lain yang berbeda kebudayaannya. Kompetensi antarbudaya meru­pakan suatu perilaku yang kongruen, sikap, struktur, juga kebi­jakan yang datang bersamaan atau menghasilkan kerja sama dalam situasi antarbudaya.

Setiap kompetensi antarbudaya dari seorang individu ter­gantung pada institusi sosial, organisasi, kelompok kerja, dan tempat individu berada (secara fisik maupun sosial). Semua fak­tor itu membentuk sebuah sistem yang mempengaruhi kompe­tensi antarbudaya individu yang efektif. Jadi, secara makro da­pat dikatakan bahwa kompetensi antarbudaya merupakan tang­gung jawab atas total sistem sebuah kebudayaan. Selanjutnya, kita akan berdiskusi tentang bagaimana aturan, infrastuktur, kebijakan, agen-agen institusi yang mendalami ketrampilan, ke­percayaan, nilai, dan perilaku individu, untuk meningkatkan kompetensi antarbudaya. Singkat kata, kompetensi antarbudaya berkaitan dengan suatu keadaan dan kesiapan individu sehingga kapasitasnya dapat berfungsi efektif dalam situasi perbedaan budaya.

Ada beberapa faktor yang mendorong kita mempelajari kompetensi antarbudaya, yaitu:

1. Adanya perbedaan nilai antarbudaya,

2. Tata aturan budaya cenderung mengatur dirinya sendiri,

3. Kesadaran untuk mengelola dinamika perbedaan,

4. Pengetahuan kebudayaan yang sudah institusionalisasi, dan

5. Mengadaptasikan kekuatan semangat layanan dalam kera­gaman budaya demi melayani orang lain.

Mengembangkan Kompetensi Komunikasi Antarbudaya    263

Dengan kata lain, kompetensi antarbudaya itu tergantung pada konteks, demikian kata Gudykunst (1991, hlm. 102). Kon­teks tersebut itu adalah (1) konteks verbal, misalnya berkaitan dengan pembentukan kata-kata, kahmat, dalam sebuah pernyata­an dan topik; (2) konteks relasi, yang menggambarkan penyu­sunan, tipe, dan gaga pesan dalam berkomunikasi dengan orang lain; (3) konteks hngkungan fisik maupun sosial suatu masyarakat yang menggambarkan bentuk penerimaan dan penolakan tanda, simbol, ataupun pesan dalam komunikasi.

II. UNSUR-UNSUR KOMPETENSI

Pada suatu waktu, seseorang mengundang Anda untuk memberikan ceramah, orang itu bilang bahwa Anda memiliki kompetensi. Pernyataan itu adalah kesan. Kompetensi adalah sebuah kesan (Spitzberg & Cupach, 1984, h1m. 115). la mengata­kan bahwa pandangan menyeluruh tentang kompetensi komuni­kasi tidak boleh tidak harus disamakan dengan kesan dari sese­orang yang menjadi lawan bicara kita.

Misalnya, kadang-kadang saya melihat diri saya sebagai sese­orang yang berkompeten dan mengharapkan supaya orang lain akan mengatakan hal yang sama. Namur, di lain pihak harus diakui bahwa orang lain ‘di luar’ saya akan mengatakan hal yang mungkin sekali sangat berbeda tentang saya, atau tentang kompetensi saya. Kalau kita hendak memahami kompetensi ko­munikasi maka pemahaman itu harus diletakkan dalam dua aspek, yaitu bagaimana saya mehhat diri saya dan bagaimana orang lain mempersepsi saya. Itulah yang membuat orang selalu me­nyebutkan bahwa kompetensi merupakan sebuah kesan, kalau tak mau dibilang kompetensi berkaitan erat dengan citra.

Ada beberapa implikasi dari pernyataan Spitzberg itu, de­mikian kata Mc. Fall (1982). Pertama, kompetensi tidak selalu harus aktual sesuai dengan tampilan seseorang, kompetensi ada­lah sebuah’evaluasi atas tampilan yang dilihat oleh orang lain. Kedua, fakta bahwa’seseorang’ telah mengevaluasi sesuatu yang mungkin saja evaluasi itu melenceng, bias, atau menarik sebuah

kesimpulan yang salah; atau membuat perbedaan penilaian de­ngan menggunakan kriteria yang sama, namun menghasilkan kompetensi yang berbeda. Ketiga, evaluasi itu harus dibentuk dengan merujuk pads sejumlah kriteria, baik implisit maupun eksplisit. Evaluasi itu sendiri menjadi tidak dapat dipahami atau tidak valid karena tidak didukung oleh pengetahuan tentang kriteria atau bagaimana kriteria itu disusun. Sehingga tampilan yang sama, bisa jadi dikatakan berkompeten oleh suatu standar tertentu, namun tidak kompeten menurut kriteria yang lain.

Meskipun begitu, umumnya pembicaraan tentang kompe­tensi jelas menghendaki adanya suatu ketrampilan atau kecakap­an yang dimiliki, di saat berkomunikasi dengan orang lain, dan ketepatan itu ditentukan pula oleh lawan bicara kita. Dalam contoh yang telah dikemukakan pads bab terdahulu jika orang Jepang mengawali perkenalan dengan Anda, dan bertanya: ‘Berapa usia Anda?’ maka ungkapan itu sama dengan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang di Amerika Utara. Orang Je­pang yang lain mengamati percakapan demikian sebagai evalu­asi yang tepat terhadap lawan bicara, atau mungkin sekadar basa-basi semata-mata. Mungkin sekali, orang Amerika Utara akan melihat pertanyaan itu sebagai sesuatu yang kurang tepat di awal perkenalan antarpribadi. Dengan demikian maka banyak orang menggunakan standar yang berbeda atau bervariasi ber­dasarkan budaya masing-masing.

Carroll (1988) melukiskan perbedaan standar tersebut da­lam komunikasi antara orang Amerika Utara dengan orang Pran­cis. Orang Prancis cenderung menilai bahwa sebuah percakapan antarpribadi harus dijiwai dalam situasi sosial. Kalau seorang Prancis bercakap-cakap, dengan Anda, percakapan itu selalu di­ikuti oleh gerakan-gerakan yang cepat dengan frekuensi inte­rupsi, dan itu diperkenankan dalam kebudayaan mereka. Ka­dang-kadang pembicara Prancis mengajukan pertanyaan dan tanpa menunggu jawaban Anda. Bagaimana dengan orang Ame­rika Utara, mereka tak pernah diajarkan untuk menjawab de­ngan serampangan, mereka berusaha untuk mengurangi inte‑

Mengembangkan Kompetensi Komunikasi Antarbudaya                 265

rupsi. Jika ada seorang Prancis berbicara dengan seseorang dari Amerika Utara, orang Prancis bisa menginterpretasi perilaku dan percakapan orang Amerika Utara sebagai kurang memper­hatikan situasi sosial. Dan sudah tentu, orang Prancis bilang bahwa orang Amerika Utara itu tidak berkompeten. Sebaliknya, orang Amerika Utara akan bilang bahwa tuan Prancis itu kurang berkompeten karena tak menjiwai percakapan antarpribadi itu.

Brian Spitzberg dan William Cupach (1984) menampilkan tiga komponen kompetensi komunikasi, yaitu (1) motivasi, (2) pengetahuan, dan (3) ketrampilan.

1. Motivasi

Motivasi adalah days tarik dari komunikator yang mendo­rong seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Jonathan H. Turner (1987) menegaskan bahwa hanya basic needs tertentu yang mendorong motivasi seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain. Di sini, kebutuhan diartikan sebagai pernyataan yang fundamental dari seorang manusia bagi manusia dan kemanu­siaan. Jika suatu saat Anda merasa kurang puss atau kurang enak menghadapi sebuah komunitas manusia yang menggan­tungkan hidupnya dari gerobak sampan, dan akibatnya Anda berkomunikasi maka itu dorongan yang manusiawi, itu artinya. motivasi.

Turner menegaskan beberapa kebutuhan dasar yang men­dorong motivasi, di antaranya:

  1. Kebutuhan manusia akan perasaan aman (saya terdorong berkomunikasi karena saya tabu seseorang membutuhkan perlindungan);
  2. Kebutuhan akan rasa percaya terhadap, orang lain (saya ter­dorong untuk menugaskan Anda karena percaya Anda mam­pu menjadi pemimpin);

‘Kebutuhan akan keterlibatan kits dalam. kelompok (saya ter­dorong untuk menjadi anggota suatu kelompok tertentu ka­rena saya percaya kelompok itu dapat melibatkan saya);

  1. Kebutuhan kita untuk menjauM kecemasan (saya terdorong untuk berkonsultasi dengan Anda karena saya tahu saya ce­mas menghadapi ancaman teror);
  2. Kebutuhan kita untuk membagi pengalaman tentang dunia (karena saya terdorong untuk mengetahui informasi itu dari Anda yang mempunyai Internet);
  3. Kebutuhan kita terhadap faktor pemuas seperti material dan simbolis (saya terdorong untuk berkomunikasi dengan Anda karena saya tahu Anda dapat membantu meminjami uang);
  4. Kebutuhan kita akan bertahannya konsep diri (saya terdo­rong bergaul dengan Anda karena Anda tahu betul saya mempertahankan diri saya).

Patut diingat bahwa umumnya tingkat kebutuhan manusia itu bervariasi, mungkin sekah kebutuhan Anda terhadap tiga jenis kebutuhan pertama sangat kuat, lalu kebutuhan Anda atas menjauhi kecemasan berada pads taraf rata-rata, dan barangkah paling tinggi pads tiga kebutuhan terakhir, yakni membagi pe­ngalaman, mencari kepuasan, dan mempertahankan konsep diri. Jadi, setiap orang memiliki kombinasi kebutuhan dan hal itu menentukan kekuatan motivasi orang untuk berkomunikasi de­ngan orang lain.

2. Pengetahuan

Mengapa pengetahuan mempengaruhi kompetensi komu­nikasi? Pengetahuan menentukan tingkat kesadaran atau pema­haman seseorang tentang kebutuhan apa yang harus dilakukan dalam rangka komunikasi secara tepat dan efektif. Komponen pengetahuan turut menentukan kompetensi komunikasi karena hal ini berkaitan erat dengan tingkat kesadaran terhadap apa yang dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Bayangkan jika Anda berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal maka yang Anda butuhkan pertama dan utama adalah pengetahuan, siapakah orang itu? Dari kelompok mana

Mengembangkan Kompetensi Komunikasi Antarbudaya    267

dia berasal. Jadi, yang Anda butuhkan adalah mengurangi ting­kat kecemasan, mencari informasi untuk mengisi pengetahuan Anda tentang orang asing itu. Dalam pencarian informasi ten-tang orang lain itulah, seorang ahli komunikasi Charles Berger (1979) mengajarkan kepada kita tiga tipe umum strategi yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi untuk mengu­rangi tingkat ketidakpastian itu, yakni strategi pasif, strategi aktif, dan strategi interaktif.

Strategi Pasif

Anda memakai strategi pasif untuk mengetahui orang lain dengan menjadikan diri Anda berperan sebagai seorang penga­mat. Anda ingin berkenalan dengan seorang pria Jepang berna­ma Yoko maka yang perlu diamati adalah bagaimana cara dia berkomunikasi dengan orang lain, cara dia menyapa dan berca­kap-cakap. Apakah cara Yoko itu akan tetap sama kalau dia berkomunikasi dengan Anda. Bagaimana cara Yoko berbicara seandainya dia bertemu dengan orang Indonesia lain yang se­bangsa dengan Anda? Itulah strategi pasif.

Strategi Akfif

Strategi aktif dilakukan untuk mencari tahu pribadi Yoko melalui orang yang mengenal dekat Yoko. Kalau Anda bertanya tentang Yoko maka informasi tentang dia dapat diperoleh dari teman-teman dia di masa kecil, teman-teman kuhah, dan teman­teman bisnis. Strategi ini dapat digunakan, namun perlu berhati­hati karena jika ada seseorang yang berteman baik dengan Yoko maka orang itu akan bercerita hal-hal yang baik-baik saja ten-tang Yoko, sebaliknya jika orang itu kurang bersahabat dengan Yoko maka dia akan bercerita tentang hal-hal yang buruk tentang Yoko. Langkah untuk mereduksinya adalah membaca literatur tentang bagaimana orang Jepang bergaul dengan sesama. Inilah strategi aktif.

266                                           Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya

Strategi Interaktif

Strategi terakhir adalah strategi interaktif, artinya Anda berhubungan langsung dengan Yoko. Strategi ini sangat meng­untungkan karena Anda dapat menekan bias informasi yang salah mengenai pribadi Yoko. Siapkan beberapa pertanyaan se­cukupnya tentang apa yang Anda ingin ketahui dari Yoko. Inilah strategi interaktif.

3. Ketrampilan

Kemampuan dapat membimbing kita untuk menghadirkan sebuah perilaku tertentu yang cukup dan mampu mendukung proses komunikasi secara tepat dan efektif. Tujuan utama dari ketrampilan sernata-mats untuk mengurangi tingkat ketidakpas­tian dan kecemasan. Menurut Gudykunst, mengurangi atau me­ngendalikan kecemasan juga merupakan sebuah ketrampilan yang ditentukan oleh kesadaran dan bersikap toleran terhadap keadaan yang ambigu atau tak tentu. Untuk mengurangi keti­dakpastian maka Anda sedapat mungkin memiliki tiga ketram­pilan, yaitu empati, berperilaku seluwes mungkin, dan kemam­puan untuk mengurangi situasi ketidakpastian itu sendiri. Dua ketrampilan pertama menjadi syarat cukup untuk membentuk ketrampilan ketiga, yakni mengurangi tingkat ketidakpastian.

Kesimpulan

Kita mungkin sekali mempunyai motivasi yang tinggi untuk berkomunikasi, namun tidak cukup memiliki pengetahuan atau ketrampilan yang mendukung atau menjadi pelengkap utama berkomunikasi. Kadang-kadang seseorang yang memiliki pe­ngetahuan, tidak mempunyai ketrampilan berkomunikasi, namun karena didorong oleh motivasi yang kuat maka orang itu tampil sebagai pribadi yang berkompeten untuk berkomunikasi. Seseo­rang dikatakan memiliki kompetensi komunikasi jika dia mem­punyai motivasi yang kuat, pengetahuan yang memadai, dan ke­trampilan yang cukup bagi tercapainya komunikasi yang efektif.

Mengembangkan Kompetensi Komunikasi Antarbudaya.   269

Ternyata ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku komunikasi manusia. Contoh yang paling sederhana, Anda mem­punyai suatu reaksi yang amat kuat terhadap sebuah kejadian. Reaksi emosional itu ditunjukkan oleh tindakan Anda yang re­aktif dan cepat sehingga. Anda menemukan did untuk bertindak. Inilah bentuk sebuah kompetensi dari seekor ular atau sering disebut snake reaction. Seekor ular biasanya mempunyai kekuatan reaktif yang ‘negatif’ ketika menghadapi sepotong daging. Jika seseorang tidak mengontrol ular itu maka ular akan bereaksi untuk segera memangsanya! Perbedaan antarbudaya memberi­kan juga perbedaan days motivasi, pengetahuan, dan ketrampilan.

Anda membayangkan diri Anda berada di Jakarta, di sekitar Jalan Malang, tepatnya di depan Pasar Rumput, Manggarai. Re­aksi emosional Anda begitu cepat menjalar gaxa-gars melihat betapa joroknya pemukiman di bawah sungai yang kotor dan jijik. Anda tak bisa menerima kenyataan bahwa di tengah keme­gahan kehidupan Jakarta masih ada orang miskin seperti itu. Anda tidak sampai hati melihat bagaimana orang tua dan anak­anak pernulung mengais, sisa-sisa makanan dalam gerobak sam­pah. Pengetahuan Anda sudah digunakan untuk membayang­kan kemiskinan hidup di daerah perkotaan, namun Anda tak mampu mengkomunikasikan reaksi emosi dan pengetahuan itu karena. Anda tidak memiliki ketrampilan yang cukup, misalnya ke mana Anda harus mengatakan sernua yang dilihat di Kali

Malang itu.

Wiemann dan Kelly (1981) menyatakan bahwa ‘motivasi tanpa ketrampilan tidak akan bermanfaat secara sosial, dan ke­trampilan tidak dapat digunakan kalau tanpa kemampuan pe­ngetahuan untuk memberikan diagnosa atas kebutuhan situasi dan hambatan yang di hadapi. Motivasi manusia, pengetahuan manusia, dan ketrampilan interaksi dengan’hasil’yang diingiri– kan selalu berkaitan dengan persepsi orang yang berkomunikasi dengan Anda. Kalau orang lain menerima kehadiran Anda dalam sebuah reaksi yang cepat maka Anda dikatakan memiliki kompe­tensi, itulah kompetensi komunikasi.

III. TAHU DIRI DAN SADAR DIRI DALAM BERKOMUNIKASI

Ada pertanyaan pokok tatkala kita bicara tentang cara­cara mengembangkan kompetensi komunikasi antarbudaya. Per­tanyaan itu adalah apa yang menyebabkan terjadinya kesalah­pahaman dalam komunikasi antarbudaya? Dalam komunikasi, kesalahpahaman ini terjadi karena ada gangguan. Konsep gang­guan merupakan salah satu bagian penting yang sangat menen­tukan keberhasilan komunikasi.

Dalam model Shanon dan Weaver, gangguan dikonstruksi sebagai hambatan fisik berupa signal (statik, overload, angin, dan badai). Gangguan yang dibicarakan di sini adalah segala sesuatu yang memungkinkan terhambatnya komunikasi, jadi ada inte­rupsi komunikasi. Misalnya, hambatan mental karena perhatian orang tidak terarah, memburuknya relasi antara mereka yang berkomunikasi, perbedaan bahasa, reaksi-reaksi emosional, Ber­ta perbedaan interpretasi karena pengetahuan (Jennifer E. Beer, 2000). Ada pula yang menambahkan dengan perbedaan latar belakang budaya, etnik, ras, persepsi, sikap, dan stereotip.

Ingatlah bahwa ketika komunikasi sedang berlangsung, Anda selalu meletakkan orang lain dalam kelompok budaya mereka, apakah itu suku bangsa, etnik, atau ras tertentu. Anda biasa bilang, dia orang Jepang yang kelebihan sopan santun, dia orang berkulit hitam (Negro) yang selalu bertindak kasar, mereka orang Meksiko yang terlalu parlente, kamu orang Kanada yang sangat mengutamakan formalitas. Inilih salah satu cars Anda memberikan stereotip kepada orang lain, dan stereo-tip itu sangat mempengaruhi komunikasi Anda dengan mereka. Bagaimanapun juga, stereotip terhadap anggota kelompok buda­ya Anda tentu akan lebih baik daripada stereotip Anda terhadap orang-orang dari latar belakang kebudayaan yang lain. Atau dalam berkomunikasi, Anda dan saga sering menempatkan orang lain dalam stereotip yang selalu lebih jelek daripada ke­lompok kita. Guna mengembangkan kemampuan berkomunika‑

Mengembangkan Kompetensi Komunikasi Antarbudaya    271

si antarbudaya, kita perlu mengubah kesadaran stereotip itu di saat berkomunikasi. Howel (1982) mengemukakan bahwa kesa­daran dan kemampuan seseorang di saat berkomunikasi dapat membentuk 4 (empat) pola atau proses pildr. Lihat tabel berikut ini :

1 2
Conscious Conscious
Incompetence Competence
Sadar Sadar
Tidak mampu Mampu
3 4
Unconscious Unconscious
Imcompetence Competence
Tidak sadar Tidak sadar
Tidak mampu Mampu

Sumber: Gudykunst (1991)

Kita berhadapan dengan empat keadaan sebagai berikut:

  1. 1.       Conscious Incompetence (sadar-tidak mampu) terjadi manakala kita sadar bahwa kita salah dan tidak mampu menginterpre­tasi perilaku orang lain;
  2. 2.       Conscious Competence (sadar-mampu) terjadi manakala kita sadar bahwa kita mampu menginterpretasi perilaku orang lain;
  3. 3.       Inconscious Incompetence (tidak sadar-tidak mampu) terjadi manakala kita tidak sadar bahwa kita tidak mampu mengin­terpretasi perilaku orang lain;
  4. 4.     Unconscious Competence (tidak sadar – mampu) terjadi mana­kala kita tidak sadar bahwa kita mampu menginterpretasi perilaku orang lain.

Konflik antara orang-orang yang berbeda etnik dan kelom­pok budaya yang masih sering terjadi seperti sekarang ini (Bosnia-Serbia, Israel-Arab, dan Protestan-Katolik) kerap kali ditimbul‑

kan oleh karena ‘keterlibatari kita dalam empat pola di atas. Meskipun sumber-sumber konflik itu berbeda-beda dan sangat tergantung pads situasi tertentu, namun semua konflik antarpri­badi, antarkelompok selalu bersumber dari hal yang sama, yaitu ‘polarisasi komunikasi. Yang dimaksudkan dengan ‘polarisasi komunikasi’ adalah kemampuan peserta komunikasi untuk saling menaruh kepercayaan, namun dalam keadaan ini ada pula pelu­ang di mans pars peserta komunikasi saling menampilkan pan­dangan yang salah atau keliru terhadap ketulusan komunikasi. ‘Polarisasi komunikasi’ terjadi ketika seseorang atau suatu kelom­pok mencari kepentingan sendiri dan hanya memiliki sedikit kepedulian terhadap minat orang lain. Hal ini membentuk pe­ngucilan moral di mans kelompok-kelompok tertentu menerima kenyataan bahwa dirinya merupakan pihak luar dari suatu nilai moral, aturan hanya demi pertimbangan penerapan rasa adil.

Gudykunst yakin bahwa manusia mempunyai tanggung. jawab untuk mencoba menghargai perbedaan-perbedaan buda­ya atau etnik dalam sebuah konstruksi tampilan, dan tidak mem­bentuk polarisasi komunikasi. Untuk menunaikan tanggung ja­wab itu maka berkomunikasi efektif harus dicoba dengan cara membentuk pesan sedemikian rupa sehingga orang lain bisa mengerti apa yang kita maksudkan, apa yang kita butuhkan, atau menanyakan pesan orang lain pads kita dengan cara seba­gaimana yang mereka maksudkan. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui cara memperbaharui komunikasi dengan orang lain. Dengan demikian, kita harus mengerti kecenderungan yang nor­mal tatkala kita berkomunikasi dengan mereka.

IV. PENDEKATAN KOMPETENS1 BERKOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Ada empat macam pendekatan teoritik terhadap kemampu­an berkomunikasi antarbudaya, yakni (1) pendekatan perangai, (2) pendekatan perseptual, (3) pendekatan perilaku, dan (4) pen­dekatan terhadap kebudayaan tertentu.

Mengembangkan Kompetensi Komunikasi Antarbudaya     273

1. Pendekatan Perangai

Tatkala berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan lain maka Anda menampilkan perangai (trait) tertentu. Ingatlah bahwa perangai tidak saja dibentuk oleh faktor-faktor internal individu, tetapi juga pengaruh faktor-faktor sosial. Itulah yang disebut Internal Response Trait (IRT). Internal Response Trait adalah derajat (tinggi atau rendah) kestabilan disposisi dan konsistensi disposisi individu untuk merespons karakteristik orang lain. Dasar utama dari asumsi IRT adalah perilaku sosial dari individu untuk merespons suatu objek—dalam hal ini orang dari kebuda­yaan yang lain — disalurkan melalui perangai respons antarpri­badi.

Dalam bukunya Individual in Society, David Krech (et al., 1981) menjelaskan bahwa IRT berawal dari beberapa konsep lain yang berkaitan. Pada awal bab ini diuraikan tentang penga­ruh kognitif terhadap perilaku komunikasi, jadi yang dibicara­kan adalah bagaimana orang mempelajari dunia sekeliling dia. Manusia mempelajari serba sedikit tentang apa yang dia butuh­kan, namun itu saja tidak cukup. Manusia juga perlu memperha­tikan bagaimana kognisi dan keinginan mereka sehingga mampu menolong dan menentukan bagaimana perangai yang meres­pons relasi antarpribadi. Jadi, sebenamya IRT merupakan salur­an, media tempat di mana perilaku sosial dari individu harus diaktualisasikan. Pertanyaan kita adalah apakah IRT seorang individu relatif konsisten dan stabil? Jawabannya sangat ditentu­kan oleh disposisi atau respon terhadap objek.

Studi-studi psikologi sosial menggolongkan beberapa ka­rakteristik IRT, yaitu (1) stabilitas, (2) keterembesan, (3) konsis­tensi, dan (4) pemolaan.

Stabilitas

Stabilitas adalah kestabilan perilaku atau disposisi indivi­du—sebagai anggota suatu masyarakat—terhadap suatu objek, artinya apakah perilaku dia tetap stabil meskipun situasi ber‑

ubah, situasi’ yang menghubungkan manusia dengan objek itu mengalami perubahan? Jenis-jenis relasi antarmanusia berbeda­beda menurut derajat relasi itu sendiri, dan untuk memperta­hankan derajat relasi itulah diperlukan kestabilan.

Perkawinan, misalnya, merupakan derajat relasi yang paling tinggi dan paling dekat di antara perempuan dan laki­laki. Oleh karena itu, jenis relasi ini membutuhkan tingkat kesta­bilan yang tinggi. Artinya, dalam keadaan yang seburuk apa pun, seperti mass krisis ekonomi, PHK, hingga ke gangguan pihak ketiga sekahpun, relasi antara suami dengan istri tak boleh berubah stabilitasnya. Kalau dikaitkan dengan komunikasi an­tarbudaya maka pertanyaan yang menarik adalah apakah sepe­rangkat perilaku komunikasi itu harus diubah meskipun situasi telah berubah?

Keterembesan

Keterembesan adalah derajat di mana suatu perangai dima­nifestasikan melalui perilaku incliviclu. Perangai dengan tingkat pervasif yang tinggi dimanifestasikan ke dalam sebuah variasi situasi yang lugs. Sebaliknya, tingkat pervasif yang rendah akan dimanifestasikan dalam situasi tertentu atau bahkan sangat ter­batas. Konsekuensi dari derajat pervasif ini adalah kalau relasi Anda dengan orang lain itu makin dekat maka derajat pervasif­nya akan makin besar sehingga disposisi Anda kepada orang itu makin kuat. Sebaliknya, derajat pervasif Anda akan lebih rendah—yang mengakibatkan disposisi Anda makin lemah­maka disposisi Anda kepada orang lain pun makin lemah, jadi terhadap mereka Anda dapat berperilaku seperlunya saja.

Konsistensi

Konsistensi adalah derajat kesamaan sebuah perangai indi­vidu terhadap objek tertentu dalam suatu situasi yang berbeda. Konsistensi perangai diukur dengan rata-rata interkorelasi anta­

ra skor perangai terhadap objek dalam beberapa situasi berbe­da. Jika rata-rata interkorelasi itu tinggi maka perangai Anda relatif konsisten. Sebaliknya, jika interkorelasi itu rendah maka perangai Anda tidak konsisten. Bandingkan kemauan Anda un­tuk menolong pacar Anda tatkala waktu masih pacaran dengan setelah menikah? Apakah perilaku Anda untuk menolong itu tetap konsisten? Anda disebut berperilaku menolong tidak kon­sisten kalau setelah menikah dengan pacar Anda maka kebiasaan Anda menolong tidak dilakukan lagi, namun bila hasrat clan perilaku Anda tetap menolong maka Anda tetap konsisten.

Pemolaan

Pemolaan adalah profil dari skor pola-pola individu untuk menentukan indikator khusus dari suatu perangai. Secara seder­hana dapat dikatakan bahwa kalau pola-pola perilaku seseorang terhadap objek, atau relasi antarpribadi/antarbudaya itu sangat teratur maka pola-pola perilaku menjacli patterning regularities. Jacli, dizL merupakan perilaku yang tidak hanya stabil dan konsis­ten, tetapi sebagai pola yang seharusnya (ideal pattern) yang dilakukan individu atau sekelompok masyarakat.

Diagram di atas menunjukkan bahwa pads ruang 1 ada perjumpaan dua jenis perangai, yakni perangai dengan hasrat dominasi (menguasai) tinggi dan perangai dengan kemampuan sosial yang rendah. Respons perilaku terhadap objek (atau peri­laku komunikasi) ditunjukkan dalam karakteristik menganalisis, mengkritisi, mencela, menilai, clan bertahan.

Pada ruang 2 ada perjumpaan antara hasrat dominasi tinggi dengan perangai sosial yang tinggi pula. Karakteristik respons perangai melalui perilaku ditunjukkan dengan melayani, meng­koordinasikan, mengarahkan, memimpin, dan memprakarsai.

Pada ruang 3 ada perjumpaan antara hasrat dominasi ren­dah dengan perangai sosial yang rendah pula. Karakterisik res­pons perangai melalui perilaku ditunjukkan dengan mengelak, menyerah, membiarkan, mundur, dan menarik diri

Pada ruang 4 ada perjumpaan antara hasrat dominasi ren­dah dengan perangai social yang tinggi. Karakteristik respons perangai melalui perilaku ditunjukkan dengan sepakat, setuju, membantu, kooperatif, dan mewajibkan.

2. Pendekatan Perceptual

Anda harus mengidentifikasi jenis-jenis persepsi, seperti, kognisi, pandangan, dan pemahaman bahwa semua itu berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi antarbudaya yang memper­hitungkan tekanan psikologi, berkomunikasi secara efektif, dan membangun relasi antarpribadi.

Model Shannon & Weaver

Shannon dan Weaver merupakan orang pertama yang memperkenalkan sebuah model komunikasi yang dianggap se­bagai model tertua komunikasi yang bersifat satu arch. Model yang diperkenalkan oleh Shannon dan Weaver itu mengandung beberapa unsur, yaitu (1)’sumber’ (menampilkan suatu gagasan atau pendapat yang selalu disebut pesan); (2) encode (sebagai proses untuk mengalihkan kode-kode informasi ke dalam tanda [signal] yang berbentuk fisik, seperti, listrik, cahaya, dan gelom­bang suara); (3) pengalihan itu melewati ‘saluran; (4) dalam pengalihan itu selalu ada gangguan atau Interferensi; (5) sinyal kemudian di-decode oleh (6) ‘penerima’; (7) bahwa sasaran atau ‘Penerima’ dapat memahami pesan.

Kata-kata Kunci

q Model ini berbentuk linier, disebut demikian karena proses komunikasi dipandang sebagai’transaksi di mana pengirim dan penerima mengetahui apa yang dikirim, tidak ada meka­nisme umpan batik. Contoh, komunikasi yang memihki ke­mungkinan umpan batik paling kecil adalah media massa.

q Model ini menggambarkan teknik pengalihan aspek-aspek komunikasi.

q Model ini menjadikan konteks dan isi komunikasi tidak relevan.

Mengembangkan Kompetensi Komunikasi Antarbudaya    277

Gangguan

Gangguan merupakan salah satu konsep penting dalam mo­del Shanon dan Weaver. Gangguan adalah bentuk hambatan fisik yang dialami oleh sinyal (staffs, cuaca, cahaya silau, atau saluran yang kelebihan muatan [overload]). Gangguan itu digu­nakan sebagai metafora untuk menggambarkan segala sesuatu yang mungkin akan menghambat dan menginterupsi komunika­si, misalnya:

q Hambatan mental, mengakibatkan perhatian Anda tidak tera­rah (melihat dan mendengar sesuatu tanpa perhatian yang terarah, mehhat dan mendengar kemana-mana);

q Hubungan antara Anda (komunikator) dengan orang lain (komunikan);

q Hambatan bahasa, misalnya perbedaan bahasa, dialek, dan konotasi;

q Reaksi emosional, misalnya sedang march, gundah, dan sedih;

q Perbedaan interpretasi, misalnya karena pengetahuan.

Model Gerbner

Gerbner membangun model komunikasinya melalui bebe­rapa tahapan asumsi:

1. Pada tahap pertama Yopi menanggapi suatu peristiwa E. Per­sepsi Yopi itu ternyata disaring oleh kemampuan fisiknya ketika dia menyelami kejadian itu, persepsi Yopi menjadi selektif karena terjadi’seleksi personal’ dan’seleksi budaya’. Jadi, persepsi Yopi itu telah mengubah keaslian peristiwa E menjadi El.

2. Yopi jugs menyeleksi saluran yang mengirimkan pesan ten‑

-tang peristiwa E itu. Pada tahap ini, Yopi bertanya tentang

akses dan kekuatan saluran untuk memindahkan pesan peris‑

tiwa E.

  1. Pesan itu telah berubah dalam suatu ‘Bentuk’ + ‘Isi menjadi ada ‘Sinyal’ + TV.

4. Tetuan Yopi bernama Boli merupakan penerima pesan peristi­wa E, Boli akan membuat decode atau menerjemahkan pesan itu, Boli juga menyaring pesan itu lagi melalui kemampuan fisiknya. Di sini terjadi lagi seleksi melalui ‘seleksi personal’ dan’seleksi budaya’. Si Boli akan menyatakan bahwa’Inflah sebuah persepsi terhadap pernyataan tentang kejadian F. Apa yang kita lihat? Kini ada dua bentuk perubahan dari sebuah pernyataan ash menjadi, SE2 (Sinyal + E2).

Gerbner menambahkan bahwa ada unsur kontekstual yang menentukan persepsi, yaitu budaya, medium, dan kekuatan sa­luran. Akhirnya, Gerbner menarik kesimpulan bahwa:

1. Setiap orang yang terlibat dalam komunikasi mempunyai per­sepsi dan penyaring. Baik persepsi maupun penyaring sama­sama merupakan suatu struktur yang menentukan bagaimana seseorang mengirim atau menerima sebuah pesan;

2. Sebuah pesan adalah sebuah’Isl’ dan’Bentuk tambahan’ yang menghasilkan makna tertentu. Misalnya, kalimat “Says men­cintai Anda”‘ yang dapat diucapkan kapan dan di mana saja. Namur, patut diperhatikan bahwa meskipun isinya sama, tetapi kalimat itu mengalami ‘bentuk tambahan’ karena (1) diucapkan di bawah sinar lilin di waktu makan malam atau sedang march di atas angkutan dan (2) ditulis dengan tangan di atas kertas surat cinta atau dikirim melalui email. Oleh karenanya, model yang diajukan Gerbner memperhitungkan juga perbedaan kekuatan saluran (variasi penggunaan media) yang memperbesar akses pengiriman dan penerimaan atau mengubah nilai rasa penerima.

Model Singer

Tatkala kita berkomunikasi dengan orang lain, tampak bah­wa persepsi kita tentang realitas menjadi kurang penting. Banyak

orang mungkin sependapat bahwa persepsi itu bukan menunjuk­kan realitas itu sendiri, itu hanyalah variasi dari persepsi Anda, hal ini karena persepsi Anda dipengaruhi oleh:

1. Faktor fisik (informasi yang Anda lihat dengan mats atau yang Anda dengar dengan telinga bisa aktual tergantung dari bagaimana otak Anda memprosesnya);

2. Faktor lingkungan (apakah ada informasi lain di luar informasi yang Anda terima ? Misalnya, dalam konteks apa?);

3. Faktor kemampuan untuk mempelajari kebudayaan, kepriba­dian, kebiasaan, dan saringan apa yang digunakan untuk menyeleksi apa yang kita terima, dan bagaimana kita bereak­si atas informasi itu.

Kits dapat melihat bahwa:

1. Semua orang memperoleh informasi dari lingkungan, tetapi apa yang dilihat itu selalu melalui sebuah media tertentu. Contoh, kita melihat udang kering yang keluar dari mesin pengering;

2. Semua orang memperoleh informasi, namun membuat inter­pretasi yang berbeda atas informasi itu. Contoh, andaikan kita melihat seorang perempuan memakai baju berwarna me-rah, meskipun banyak orang secara fisik mengakui bahwa apa yang dilihatnya adalah baju berwarna merah, namun akan menginterpretasi warns itu secara berbeda. Di Amerika Serikat, merah bermakna’berhenti’,’marah’, atau’membang­kitkan gairah/ merangsang’. Sebaliknya, di Cina warns merah bermakna ‘keberuntungan’.

Singer juga mencatat bahwa di scat kita menerima suatu informasi dari luar kita mengalami kesulitan, yakni bentuk kesa­daran. Pendapat ini sama dengan pendapat Edward T. Hall dalam bukunya The Hidden Culture, yang mengatakan bahwa informasi yang kita ketahui hanya sebatas horison air, ada lagi informasi yang ada di bawah permukaan air, ini yang membuat kita sukar mengkomunikasikannya secara antarbudaya. Jadi,

meskipun sebuah informasi itu sama, namun informasi itu diper­sepsi melalui proses yang berbeda, yakni berbeda dalam mem­perhatikan dan dalam interpretasi.

Pilihan Perhatian

Kata Singer, setiap detik, dunia membanjiri kita dengan informasi. Namun, prosedur akal kita untuk menginterpretasi dan model persepsi hanya terukur dalam merit. Oleh karenanya, manusia menggunakan cars tertentu untuk menyeleksi informasi yang menerpa mereka, di sinilah terjadi proses penyaringan, dan inilah esensi dari faktor penentu terhadap setiap pesan yang diterima. Kita membuat catatan atas pesan yang kits ,terima, lalu menentukan bagaimana cars mengingatnya.

Misalnya, Anda memilih satu acara drama di TV, lalu catatlah:

  1. Emosi Anda di saat menonton drama itu, ingatlah kembali dan catat semua perasaan Anda di atas sebuah kertas;
  2. Apa yang tidak Anda harapkan dari tayangan itu?;

1

  1. Apakah ada pola-pola yang kuat dari perasaan Anda?;
  2. Apakah Anda mempunyai pengetahuan tentang hal yang sa­ma (yang ditonton di TV itu) sebelum Anda melihat tayangan itu?;
  3. Apakah tayangan itu menarik minat Anda?;

6. Apakah tayangan itu berkaitan dengan kebutuhan dasar An­da (merasa memiliki apa yang ditayangkan, memenuhi daya tarik seks, mengisi minat berbahasa, atau mendorong Anda untuk mengatasi rasa lapar);

  1. Apakah Anda dapat memanfaatkan informasi yang ditayang­kan itu?;
  2. Sejauhmana kebudayaan Anda berkepentingan menyaring jawaban Anda tentang emosi atas TV itu? Apa yang nor­mal/biasa terjadi dan apa yang tidak Anda harapkan?

3. Pendekatan Perilaku

Pendekatan terhadap kompetensi komunikasi antarbudaya dapat dilakukan melalui pendekatan perilaku, terutama perilaku sosial (perilaku individu dalam konteks sosial) karena individu berhubungan dengan seseorang dalam konteks budaya tertentu. Dalam bab ini, kita hanya membahas secara ringkas beberapa. teori.

Teori Stimulus-Respons

Kay Deaux dan Lawrence S. Wrigtsman (1984, h1m. 15) me­ngemukakan beberapa contoh pendekatan perilaku antarpribadi, misalnya Reinforcement Theory dan Cognitive Theory. Dua pende­katan ini mengemukakan bahwa perilaku sosial ditentukan oleh prinsip-prinsip penguatan dan pembelajaran. Para ahli psikologi yang berpendapat demikian antara lain John Watson, Clark Hull, Kenneth Spence, dan B.F. Skinner. Fokus dari reinforce­ment theory adalah analisis hubungan antara stimulus internal maupun eksternal yang membangkitkan respons penerima (S -R). Berard untuk mengubah respons seseorang terhadap stimu­lus (misalnya informasi) dari luar maka kita perlu meningkatkan derajat penguatan atau tekanan internal maupun eksternal ter­tentu (S – R). Sedangkan dalam cognitive theonj dikatakan bahwa sebab-sebab perilaku manusia, baik catatan perilaku historis maupun perilaku terkini, ditentukan oleh memori dan struktur kognitif. Jadi, setiap orang selalu bertindak berdasarkan struk­tur kognitif.

F. B. Skinner tentang Perilaku yang Dapat Diamati

Pendekatan perilaku yang diajukan oleh Skinner menekan­kan bahwa untuk memahami kepribadian seseorang, tidak perlu memahami kognisi orang itu. Kognisi itu tidak penting dalam memahami kepribadian karena kepribadian itu merupakan peri‑

laku yang dapat diamati, perilaku itu dipengaruhi oleh ganjaran dan hukuman dari lingkungan. Dengan demikian, kepribadian manusia itu berkaitan erat dengan situasi. Pandangan ini merupa­kan gagasan dasar dari sebagian besar teori social learning yang jugs menekankan bahwa pengalaman individu dengan lingkung­an itulah yang membentuk sebuah kepribadian. Skinner dikritik oleh para psikolog lain hanya karena dia tidak pemah berpikir bahwa untuk menanggapi hngkungan, seseorang membentuk pe­mikiran berdasarkan kesadaran atau bahkan alam bawah sadar.

Albert Bandura tentang Social Learning

Sebagaimana dikatakan di atas bahwa teori social learning percaya bahwa lingkungan merupakan faktor penentu terpen­ting bagi pembentukan kepribadian. Bandura mengatakan bah­wa sebetulnya setiap orang dapat mengontrol perilakunya sen­diri melalui pikiran, kepercayaan, dan nilai-nilai. Albert Bandura yang memperkenalkan Social Learning Theory itu mengatakan bahwa ‘belajar sosial’ merupakan hasil dari respons langsung, atau akibat dari frekuensi perilaku setelah seseorang mengamati orang lain. Perilaku orang lain dapat dijadikan sebagai model atau informasi yang kemudian akan ditiru.

Misalnya, Anda menonton TV, apa yang ditayangkan TV itu merupakan informasi. Kalau informasi yang disajikan dari TV berbentuk perilaku maka perilaku itu merupakan sebuah model. Akibatnya, para penonton dapat meniru perilaku yang ditayangkan itu. Di sini Anda dapat melihat bahwa pengaruh lingkungan (TV atau media massa) — apalagi didukung oleh pe­ngetahuan— sangat menentukan, dengan kata lain, proses kogni­fif sebagai kontrol diri dalam proses social learning sangat kuat. Bandura dan Mischel mengatakan bahwa pelbagai faktor inter­nal dan eksternal sangat menentukan kontrol diri seorang indi­vidu (John W. Santrock, 1991, hlm. 445-448).

Mengembangkan Kompetensi Komunikasi Antarbudaya     283

George Homans tentang Social Exchange Theory

Ada pula Social Exchange Theory (teori pertukaran sosial) yang mendasari diri pada prinsip-prinsip ekonomi, bahwa inter­aksi antara manusia tergantung dari ganjaran dan biaya yang mehbatkan mereka berdua atau yang mereka cari dalam relasi mereka itu. Makin besar keuntungan yang diperoleh maka-relasi akan makin kuat, makin kecil keuntungan yang diperoleh maka makin renggang atau putuslah relasi itu. Menurut Homans, pada dasarnya manusia itu bersifat hedonistik, dengan kata lain, mere­ka mencari kepuasan maksimal dan biaya minimal. Dalam inter­aksi dengan sesama, mereka mencari dan bertukar kepuasan itu.

4. Pendekatan Kebudayaan Khusus

Anda dapat mengidentifikasi persepsi khusus kebudayaan dan perilaku yang unik yang dimiliki oleh peserta komunikasi. Oleh karena itu, sebagai peserta komunikasi Anda harus mema­hami beberapa komponen kemampuan komunikasi antarbuda­ya, seperti, konteks, ketepatan akan efektivitas, pengetz:nuan, motivasi, dan aksi, yang semuanya itu berbeda-beda berdasar­kan kebudayaan. Jika kita ingin meningkatkan komunikasi de­ngan orang dari kebudayaan lain maka yang dilakukan adalah mempelajari kebudayaan, belajar tentang nilai, norma, keperca­yaan, bahasa (verbal dan nonverbal), struktur pengetahuan, sis­tem sosial dan budaya, sistem ekonomi, mata pencaharian, dan adat istiadat.

GAMBAR: KEBERAGAMAN BUDAYA BISA YANG ADA DI INDONESIA SEPERTI GAMBAR DI ATAS BISA MENIMBULKAN RASA CINTA KITA KEPADA KEBERAGAMAN BUDAYA YANG ADA DAN MENIMBULKAN RASA UNTUK BERUSAHA MENGEMBANGKAN KOMPETENSI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA.

SUMBER:  BUKU MAKNA BUDAYA DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

KARANGAN DR.  ALO LILIWERI, M.M. TERBITAN TAHUN 2007 OLEH PT. LKiS PELANGI AKSARA, YOGYAKARTA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s